19 Maret 2024

Metode Hisab dan Rukyat Hilal untuk Menentukan Awal Ramadan

Berikut dalil dan pendapat para ulama yang perlu dipahami
Metode Hisab dan Rukyat Hilal untuk Menentukan Awal Ramadan

Foto: Freepik.com/sketchepedia

Dalam menentukan awal bulan Ramadan, umat Islam telah lama mengandalkan dua metode utama yakni metode hisab dan rukyat hilal.

Meskipun keduanya memiliki pendekatan yang berbeda, namun keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk menentukan awal bulan suci bagi umat Islam.

Yuk, pelajari lebih lanjut tentang metode hisab dan rukyat hilal dalam artikel di bawah ini.

Baca Juga: Arti Tarhib Ramadan, Berikut Contoh Amalan dan Tujuannya

Apa Itu Metode Hisab?

Al-Qur'an dan Buah Kurma (Orami Photo Stocks)
Foto: Al-Qur'an dan Buah Kurma (Orami Photo Stocks)

Metode hisab adalah salah satu pendekatan yang digunakan dalam menentukan awal bulan Ramadan dalam kalender Islam.

Dalam metode ini, perhitungan matematis dan astronomis digunakan untuk memprediksi kedatangan bulan baru, termasuk peredaran benda langit seperti hilal.

Melansir laman Mahkamah Syariah Aceh, perhatian besar telah diberikan pada astronomi sejak awal peradaban Islam, dengan tokoh-tokoh seperti Al Biruni, Ibnu Tariq, dan Al Khawarizmi mengembangkan metode hisab modern.

Dewasa ini, metode hisab telah menggunakan teknologi komputer dan perangkat lunak yang memungkinkan presisi dan akurasi yang tinggi.

Baca Juga: 10 Tanda Ibu Hamil Harus Membatalkan Puasa, Perhatikan!

Penggunaan Metode Hisab untuk Menentukan Ramadan

Masjid (Orami Photo Stocks)
Foto: Masjid (Orami Photo Stocks)

Dikutip dari laman Hidayatullah, ada dua pendapat di antara ulama terkait penentuan awal bulan Ramadan.

Pendapat pertama, yang mayoritas ulama sampaikan adalah menggunakan metode rukyat, yaitu melihat bulan secara langsung.

Jadi, menentukan awal bulan Ramadan tidak boleh dilakukan dengan metode hisab.

Hal ini mengacu pada pendapat mayoritas ulama salaf dan khalaf, termasuk di dalamnya keempat Imam Madzhab yakni Abu Hanifah, Malik, Syafi’I, dan Ahmad.

Namun dalam pendapat lainnya, cara menentukan awal bulan Ramadan boleh dilakukan dengan menggunakan hisab.

Ini adalah pendapat Mutharrif bin Abdullah, Ibnu Suraij, dan Ibnu Qutaibah.

Mereka berdalil dengan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هكَذَا وَهكَذَا يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ، وَمَرَّة ثَلاَثِينَ

Artinya: “Sesungguhnya kita (umat Islam) adalah umat yang ummi, tidak menulis dan menghitung, bulan itu jumlahnya 29 hari atau 30 hari.”(HR Bukhari dan Muslim)

Hanya saja kelompok ini menafsirkan lafadh “faqduru lahu” dengan ilmu hisab, yaitu jika bulan tersebut tertutup dengan mendung, maka pergunakanlah ilmu hisab.

Dari kedua pendapat di atas, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa untuk menentukan awal bulan Ramahan dan Syawal adalah dengan cara melihat bulan secara langsung (rukyat).

Namun, tetap diperbolehkan menggunakan alat bantu seperti teropong dan lain-lainnya.

Demikian pula diperbolehkan menggunakan hitungan hisab, tetapi hanya sebagai pembantu dan penopang dari rukyat.

Baca Juga: 10 Rekomendasi Alat Penyedot Ingus Bayi, Legakan Pernapasan

Apa Itu Rukyat?

Bulan Ramadan (Orami Photo Stocks)
Foto: Bulan Ramadan (Orami Photo Stocks)

Selain metode hisab, ada juga rukyat hilal yang dapat digunakan untuk menentukan awal bulan Ramadan dalam kalender Islam dan bulan Syawal untuk menentukan awal dan akhir puasa serta perayaan Idul Fitri.

Rukyat hilal adalah aktivitas pengamatan untuk melihat penampakan sabit bulan pertama setelah terjadi konjungsi atau ijtima', yaitu saat bulan baru terbentuk.

Metode ini dilakukan dengan mengamati secara langsung visibilitas hilal di langit pada malam hari setelah matahari terbenam.

Pada saat itu, bulan baru akan tampak sebagai sabit tipis di langit senja.

Kesaksian tentang penampakan hilal menjadi dasar utama dalam metode rukyat hilal, dan dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan menggunakan alat bantu optik seperti teleskop.


Nah, untuk menegaskan bahwa hilal telah terlihat, cukup dengan kesaksian satu atau dua orang yang jujur.

Hal ini karena Nabi Muhammad SAW mengizinkan satu orang memberikan kesaksian tentang terlihatnya bulan Ramadan.

Namun, dalam hal menentukan bulan Syawal untuk mengakhiri puasa, rukyat hilal tidak bisa dipastikan kecuali dengan kesaksian dua orang yang jujur.

Sebab, Nabi Muhammad SAW tidak memperbolehkan satu orang memberikan kesaksian melalui rukyat hilal untuk menetapkan bulan Syawal.

Perlu dijelaskan juga bahwa jika seseorang melihat hilal Ramadan, maka dia harus berpuasa meskipun kesaksiannya tidak diterima.

Namun, jika seseorang melihat hilal Syawal dan kesaksiannya tidak diterima, maka dia tidak boleh mengakhiri puasanya.

Sebagaimana dalam sebuah hadis yang dikutip dari laman Muslim.or.id berikut ini.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

Artinya:

“Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Hari puasa adalah hari ketika orang-orang berpuasa, Idul Fitri adalah hari ketika orang-orang berbuka, dan Idul Adha adalah hari ketika orang-orang menyembelih’.” (HR. Tirmidzi).

Baca Juga: 10 Buku Best Seller Gramedia 2024, Ada Tokoh Biografi!

Dalil tentang Rukyat Hilal

Ilustrasi Puasa
Foto: Ilustrasi Puasa (Freepik.com/odua)

Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai perintah berpuasa jika melihat hilal:

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

Artinya:

“Apabila kalian melihatnya (hilal Ramadan), maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya (hilal bulan baru), maka berbukalah.

Tetapi jika mendung (tertutup awan) maka estimasikanlah (menjadi 30 hari).” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis tersebut ada dua petunjuk untuk mengetahui kapan puasa Ramadan yakni dengan melihat hilal atau dengan mengestimasikan/menyempurnakan bilangan bulan menjadi 30 hari.

Jika menggunakan rukyat, kita belum tahu kapan akan datangnya bulan Ramadan karena harus menunggu tanggal 29 Sya’ban terlebih dahulu, kemudian melakukan rukyatul hilal.

Kalimat “Faqduru lahu” memiliki beberapa pemaknaan; pertama, sempurnakanlah bulan Sya’ban 30 hari; kedua, jika hilal belum terlihat maka perkirakanlah bahwa hilal ada dibalik mendungnya awan; ketiga dengan hisab (perhitungan).

Baca Juga: 9 Resep Kolak untuk Menu Takjil Buka Puasa, Manis dan Legit!

Demikian penjelasan seputar metode hisab dan rukyat hilal yang dapat digunakan dalam menentukan awal bulan Ramadan bagi umat Islam.

Semoga informasinya bermanfaat, ya.

  • https://muslim.or.id/6641-menyoal-metode-hisab.html
  • https://muhammadiyah.or.id/2022/03/pada-dasarnya-penetapan-awal-bulan-itu-dengan-hisab/
  • https://hidayatullah.com/konsultasi/konsultasi-syariah/2015/07/13/73908/hisab-dan-rukyat.html
  • https://hidayatullah.com/konsultasi/fikih-kontemporer/2011/09/21/5337/penentuan-awal-ramadhan.html
  • https://www.nu.or.id/nasional/memahami-perbedaan-hisab-dan-rukyat-dalam-penentuan-bulan-hijriah-fXe37
  • https://almanhaj.or.id/3944-hisab-dan-penentuan-awal-ramadhan.html
  • https://muslim.or.id/328-menentukan-awal-ramadhan-dengan-hilal-dan-hisab.html
  • https://www.nu.or.id/syariah/memahami-dalil-rukyat-hilal-melalui-bahasa-b1kqI
  • https://muslim.or.id/9675-puasa-dan-berhari-raya-bersama-pemerintah.html
  • https://www.rumahzakat.org/id/pengertian-dan-perbedaan-metode-rukyat-dan-hisab-untuk-menentukan-hilal-1-ramadhan-1443-h

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.