17 April 2024

7+ Fakta Muhammad Al Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel

Muhammad Al Fatih merupakan salah satu pahlawan Islam yang terkenal

Ketika membicarakan pahlawan Islam dalam sejarah, nama Muhammad Al Fatih pasti akan ikut disebut.

Di usianya yang baru seperempat abad kala itu, pria yang juga dikenal dengan nama Mehmed II ini mengukir prestasi besar.

Ia menaklukan Konstantinopel di Romawi Timur.

Hal itu membuat nama Muhammad Al Fatih tidak mudah dilupakan hingga kini, sekalipun zaman terus berganti.

Bagaimana kisah Muhammad Al Fatih dalam menaklukan benteng terkuat di dunia tersebut?

Simak kisah dan berbagai fakta menarik dari Sultan Turki Utsmaniyah ini, yuk, Moms!

Baca Juga: 7 Pahlawan Indonesia Paling Populer di Mata Anak-anak

Kisah dan Fakta Muhammad Al Fatih

Moms penasaran dengan kisah dan fakta tentang Muhammad Al Fatih?

Simak selengkapnya di bawah ini, yuk.

Jangan lupa diajarkan kepada Si Kecil juga, ya, Moms!

1. Sejarah di Balik Nama Muhammad Al Fatih

Ilustrasi Muhammad Al Fatih
Foto: Ilustrasi Muhammad Al Fatih (https://arab.fib.uns.ac.id/)

Muhammad Al Fatih bukanlah nama asli dari pria yang lahir pada 30 Maret 1432 itu.

Al Fatih, yang bermakna Sang Penakluk, merupakan gelar yang ia terima di tahun 1453.

Gelar tersebut disematkan kepadanya setelah berhasil menaklukan Konstantinopel, benteng terkuat di dunia pada kala itu.

Nama asli Pahlawan Islam ini adalah Mehmed bin Murad.

Ia lahir di Edirne, Turki, dan merupakan anak ketiga dari pasangan Sultan Murad II (Pemimpin Turki Utsmaniyah) dan istri keempatnya, Hüma Hatun.

2. Alasan Muhammad Al Fatih Menaklukkan Konstantinopel

Konstantinopel, atau yang sekarang bernama Istanbul, merupakan salah satu benteng terkuat pada masanya.

Kota tersebut sudah berdiri sejak zaman Romawi di tahun 330, dan merupakan pusat dari agama Kristen Ortodoks pada masanya.

Selain latar belakang tersebut, ada sebuah hadis yang artinya:

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Ahmad bin Hanbal Al Musnad).

Nah, sejak berusia 12 tahun, Muhammad Al Fatih sudah berambisi untuk menaklukkan Konstantinopel dan menjadi pemimpin Islam yang disebutkan dalam hadis tersebut.

Hingga pada akhirnya, ia berhasil membuat pusat dari agama Kristen Ortodoks itu jatuh ke tangan umat Muslim.

3. Strategi Menaklukkan Konstantinopel

Ilustrasi Konstatinopel Zaman Dahulu
Foto: Ilustrasi Konstatinopel Zaman Dahulu (Wikimedia Commons)

Untuk mewujudkan impiannya, Muhammad Al Fatih mulai memperkuat armada militer Ottoman dengan menyeleksi pasukannya secara cermat.

Berbeda dengan umumnya, pasukan yang dipilih Muhammad Al Fatih merupakan anak-anak Turki yang memiliki berbagai kualitas.

Anak-anak pilihan tersebut ialah mereka yang tercerdas, paling rajin ibadah, dan paling kuat fisiknya.

Mereka dibimbing sejak dini dan dibekali pendidikan agama, ilmu pengetahuan, serta militer.

Setelah punya pasukan terbaik, Mehmed II juga menyusun strategi perang yang cermat untuk menaklukkan Konstantinopel.

Muhammad Al Fatih mengerahkan hingga 100.000 tentara, pasukan berkereta artileri, dan 320 kapal untuk mengepung Konstantinopel, baik melalui darat maupun laut.

Setelah bergelut dengan peperangan selama lebih dari 50 hari, akhirnya benteng Konstantinopel berhasil hancur.

Alhasil, kota tersebut jatuh ke tangan pasukan Muhammad Al Fatih pada 29 Mei 1453.

Baca Juga: 14 Sosok Pahlawan Nasional Wanita Indonesia dari Seluruh Penjuru Nusantara, Harus Tahu, Nih Moms!

4. Teladan dari Muhammad Al Fatih

Kebanyakan umat Islam mengenal Muhammad Al Fatih karena keberhasilannya dalam menaklukan Konstantinopel dan menjadikan kota tersebut sebagai ibu kota baru dari Turki Utsmaniyah.

Padahal, selain keberhasilan tersebut, ada banyak teladan dari Mehmed II yang patut dicontoh.

Misalnya saja, di bidang akademik, Muhammad Al Fatih mampu menguasai berbagai bahasa, seperti Arab, Persia, Latin, Yunani, dan Italia.

Ia juga memiliki keterampilan di bidang sains dan matematika.

Selain itu, saat berusia 21 tahun, Ia juga tumbuh menjadi ahli perang yang pandai berkuda.

Semua kemampuan tersebut beliau dapatkan berkat kerja keras dan pendidikan yang tidak main-main.

Sultan Murad II menunjuk beberapa guru khusus untuk membantu Muhammad Al Fatih berkembang.

Salah satu gurunya tersebut ialah Syekh Ahmad bin Ismail al-Kurani, seorang ulama yang paham Al-Qur’an.

Guru-guru tersebut bertugas membantu Mehmed II menguasai berbagai keterampilan, mulai dari yang berkaitan dengan duniawi hingga menguasai ilmu agama Islam.

Hal itu merupakan upaya yang disiapkan oleh Sultan Murad II dan Hüma Hatun untuk membekali anaknya supaya tumbuh menjadi pemimpin yang baik, tangguh, serta selalu berada di jalan kebenaran.

5. Kebiasaan yang Dilakukan Muhammad Al Fatih

Sang Penakluk Konstantinopel
Foto: Sang Penakluk Konstantinopel

Bukan hanya kemampuan dan keahliannya saja yang patut dijadikan teladan, kebiasaan yang dilakukan Muhammad Al Fatih pun layak ditiru.

Si Sang Penakluk itu terkenal punya kebiasaan untuk selalu menjaga ibadahnya, baik salat wajib 5 waktu, salat tahajud, maupun salat rawatib.

Kebiasaan baik ini pun beliau 'tularkan' kepada para pasukannya.

Baca Juga: 10+ Nama Pahlawan Nasional dan Kisah Perjuangannya yang Bisa Moms Kenalkan pada Si Kecil

6. Peradaban yang dibangun Muhammad Al Fatih

Setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel, Muhammad Al Fatih menjadikan wilayah tersebut sebagai ibu kota dan pusat Kerajaan Utsmani.

Mehmed II kemudian mengubah nama Konstantinopel menjadi Islambul, yang berarti negeri Islam.

Kini, tempat tersebut berubah nama menjadi Istanbul.

Selain itu, Muhammad Al Fatih juga mengubah sebuah Gereja Ortodoks di Hagia Sophia menjadi sebuah masjid.

Selanjutnya, ia pun membangun lebih dari 300 masjid, 57 sekolah, dan 59 tempat pemandian di berbagai wilayah Utsmani.

Beberapa masjid peninggalan Muhammad Al Fatih yang paling terkenal, misalnya Masjid Sultan Muhammad II dan Jami’ Abu Ayyub al-Anshari.


7. Wafatnya Sang Penakluk

Makam Muhammad Al Fatih
Foto: Makam Muhammad Al Fatih (Wikimedia Commons)

Tepat pada tanggal 3 Mei 1481, Muhammad Al Fatih tutup usia.

Beliau wafat pada usia 49 tahun di tengah perjalanannya berjihad.

Sebelum melakukan perjalanan, beliau diketahui sudah dalam keadaan sakit.

Namun, ia tetap memaksakan diri meninggalkan Istanbul untuk berjihad di jalan Allah SWT.

Di sepanjang perjalanan, kondisi kesehatan Muhammad Al Fatih semakin memburuk.

Tenaga kesehatan dan bantuan obat-obatan pun tidak mampu lagi menyembuhkannya.

Hingga akhirnya, beliau menghembuskan napas terakhirnya di tengah para pasukan tersebut.

Baca Juga: 10 Aplikasi Islam, Bantu Menjalankan Ibadah Sehari-hari

8. Visi Masa Depan Muhammad Al-Fatih

Visi masa depan Muhammad Al-Fatih mencakup beberapa aspek penting yang membentuk pandangannya tentang peradaban dan pengembangan kekuasaan Utsmaniyah.

Sebelum menaklukkan Konstantinopel, Al-Fatih telah merencanakan untuk membuka jalur perdagangan baru yang menghubungkan Eropa dengan Asia.

Penaklukan Konstantinopel memberinya kendali atas Selat Bosporus, yang merupakan jalur air strategis yang menghubungkan Laut Hitam dengan Laut Mediterania.

Ini memberinya kontrol atas rute perdagangan penting dan memungkinkannya untuk mengendalikan aliran perdagangan yang menguntungkan bagi Kesultanan Utsmaniyah.

Setelah mengambil alih Konstantinopel dan mengubahnya menjadi Istanbul, Al-Fatih memulai proyek-proyek besar untuk memperbarui infrastruktur kota.

Dia membangun Masjid, istana, pasar, dan berbagai bangunan publik lainnya untuk memperkuat posisi Istanbul sebagai pusat kebudayaan, perdagangan, dan politik yang penting di wilayah tersebut.

Meskipun Al-Fatih adalah seorang pemimpin Muslim, visinya tidak terbatas pada perluasan kekuasaan politik semata.

Dia juga ingin menyebarkan ajaran Islam dan kebudayaan Utsmaniyah ke wilayah-wilayah yang dikuasainya.

Baca Juga: 5+ Adab Istri ketika Suami Marah Menurut Ajaran Islam, Wajib Dipahami!

Ini tercermin dalam kebijakan toleransi agama yang dia terapkan setelah menaklukkan Konstantinopel, di mana dia mengizinkan umat Kristen Ortodoks dan Yahudi untuk tetap beribadah sesuai keyakinan mereka sendiri.

Itu dia sejarah singkat dan fakta-fakta tentang Muhammad Al Fatih.

Semoga Moms, Dads, dan Si Kecil bisa mengambil pelajaran baik yang dicontohkan oleh salah satu pahlawan Islami ini, ya!

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Mehmed_II
  • https://www.britannica.com/biography/Mehmed-II-Ottoman-sultan/Mehmeds-empire
  • https://www.zenius.net/blog/muhammad-Al-Fatih

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.